Weekly Photo Challenge: Illumination

Thinking about light makes me remember the time when I was doing my morning walking with a friend.

DSC_0018

DSC_0020

These were taken at small forest and I still think that sunlight through the trees is the best as it reminds me how beautiful our world will be if all kind of forest are conserved.

New Post 2013

So, this is my first post in 2013. I wonder what I could have written about my new year’s eve, first doings at January first, and so on. Things people say about new year in my surroundings are the resolution and the plan. However, since tonight I haven’t thought anything about them, perhaps later.

Anyway, they say new year is the new hope and new spirit. I say, good hunting.

Flooded Garden

Not really was flooded but you could see the rain made another ‘pools’ around the garden. More like a little swamp.

DSC_0079

DSC_0078

DSC_0077

The angle I used to take these pictures was a bit wrong, I guess. The pictures were a bit to bright. I hope these are still enjoyable.

Kau

Di sebuah gedung olahraga dekat lapangan bola yang luas. Dikelilingi semak-semak tipis dan padang rumput. Hari yang mendung dengan hujan rintik-rintik. Kalender menunjukkan Januari tahun 2009. Kalender tua yang nyaris hancur karena air hujan. Gedung itu ramai dengan orang-orang yang sedang berbicara mengenai macam-macam hal.

Waktu saya kebetulan sedang mampir ke sana entah karena urusan apa. Seingat saya waktu itu saya memakai celana panjang hitam bukan jeans dengan kemeja putih bergaris vertikal lengan panjang sedikit digulung hingga mendekati siku. Memakai sepatu lama saya yang berwarna hitam dan sabuk lama saya yang telah rusak, St.Dupont dan berjalan dengan tangan di saku karena udara sedikit dingin. Saya sendirian waktu itu, di sekitar gedung dengan udara dingin, dan cuaca mendung.

Saya bertemu dengan beberapa orang kawan saya. Ada yang sedang sibuk membicarakan perguruan tinggi, keluarga, wisata, kuliner, dan macam-macam. Saya berjalan keluar gedung dan duduk di tribun melihat lapangan luas beserta padang rumputnya. Ada kerinduan yang saya lihat di sana, basah dengan embun dengan angin semilir sejuk membelai kepala meniup kemeja saya. Tribun tidak penuh. Hanya beberapa pasang orang atau beberapa orang saja di sana, sekedar duduk melamun atau bercanda dengan temannya.

Aku akan meneruskan ke universitas X setelah ini. Sebenarnya orang tuaku ingin aku ke negeri Y tapi itu terlalu jauh dan mahal menurutku. Aku juga bla…bla…bla…

Tentu institut A dong, itu kan keren dan bergengsi. Gimana sih lo? Masa ga tau soal itu. Pokoknya ntar gue bla…bla..bla…

Jelas sekali, mereka berisik. Tentu saja, saya sudah melewati masa itu dan sekarang sedang menjalani masa-masa kuliah bukan masa memilih. Ada yang sedang berjanji dengan pasangannya seolah akan mati 1-2 menit lagi. Berjanji akan sehidup semati atau kuliah bersama lagi, di kampus dan jurusan yang sama, tak ingin terpisah atau bertengkar dengan kawannya sendiri karena perbedaan pilihan.

Saya berjalan dari tribun menuju pagar pembatas lapangan dengan tribun. Angin lebih nakal di sana. Dinginnya bukan main. Masih ada yang sedang bercanda dan teriakannya terdengar melawan arah angin. Suara deru batang-batang bambu menjadi semakin nyaring. Tidak ada suara kehidupan lain yang terdengar ketika saya melihat langit. Tidak ada matahari di sana. Awan gelap dengan celah-celah sinar bergerak dengan santai. Ponsel saya bergetar.

Ya? Gedung Z. Kenapa? Waktu saya sudah habis? Cepat sekali. Oke, saya akan pulang secepat mungkin.

Saya berjalan untuk kembali menuju tempat asal saya yang sebenarnya tidak saya ketahui pasti. Saya tiba di depan pintu dengan kaca yang besar. Saya sempat bercermin di sana untuk meyadari bahwa saya tidak ada di cermin. Kosong. Saya bisa melihat orang lain lewat kaca itu. Indah sekali. Saya ingat waktu saya sudah habis. Jadi diri saya di kaca itu telah pergi terlebih dahulu? Mungkin saja. Saya tidak jadi melewati pintu tetapi melalui jalan samping gedung yang tertutup rumput basah. Ada beberapa orang di sana. Tidak terlalu ramai.

Saya berjalan dengan santai dengan tangan tetap di saku. Matahari telah mencapai senja. Cahaya kemerahan menyinari saya dari belakang tapi rumput depan saya tetap terang seolah matahari menembus tubuh saya. Hal itu terjadi mudah sekali. Saya teruskan menuju pintu taman samping itu untuk menuju tepi jalan raya. Sepertinya saya akan jalan kaki untuk kembali ke tempat asal saya.

Saya melintasi beberapa orang, tentu saja. Dengan langkai santai dan gontai saya teruskan mendekati pintu pembatas itu. Langkah saya terhenti beberapa detik. Ada orang yang berada di depan saya melihat saya beberapa detik pula kemudian dia pergi. Saya mencoba untuk melihat dia namun mata saya buram dan orang itu pun menjauh hingga tidak terlihat.

Saya bangun dan berjalan lagi dan tiba di pintu taman itu. Angin semakin dingin dan keberadaan saya makin menipis. Seolah larut dibawa angin seperti debu tapi lebih halus dan hangat. Dengan tubuh yang tersisa saya melanjutkan langkah tadi ke arah hutan. Ya, ke arah hutan. Gelap dan dingin. Sore itu lampu mulai menyala sendirinya. Cahayanya kuning seperti lampu di pelabuhan. Burung gagak mulai berisik.

Kau datang juga akhirnya.

Saya tersentak lagi dan melihat ke belakang. Siapa kau? Saya bingung. Apakah kedatangan saya ke gedung itu telah diprediksi? Apakah kedatangan saya di gedung itu telah ditunggu? Orang itu berjalan mendekat. Tubuh saya makin menipis terbawa angin. Dia makin dekat. Berbaju putih dengan lengan panjang. Baju itu bermotif tertentu yang saya kenal tapi tidak ingat dimana saya pernah melihat motif itu sebelumnya. Saya tidak melihat bawahan yang dia kenakan. Tatapannya yang lembut langsung menatap kedua mata saya.

Angin berhembus kencang. Imbasnya tentu tubuh ini akhirnya berlubang di sana-sini. Wujud saya makin kabur. Orang itu berkulit sedikit putih. Indah sekali. Anggun berpadu dengan cahaya kemerahan di celah-celah awan gelap.

Siapa kau? Kau tidak menjawab pertanyaan saya. Saya bertanya lagi dengan harapan dia menjawab. Dia tersenyum dan mengangkat tangan kanannya. Saya kira dia melambaikan tangan untuk ucapan selamat tinggal. Aneh, dia mengenal saya sedangkan saya tidak. Saya berbalik tak peduli dan kembali melangkah menuju hutan yang saya tidak pahami sebabnya saya ke sana. Saya hanya merasa saya harus ke sana untuk pulang, untuk kembali sebelum wujud ini menghilang sepenuhnya.

Kau datang. Akankah kau datang lagi ke sini? Akankah kau rela mampir ke sini dalam perjalananmu yang lain?

Dia tersenyum manis, saya pikir begitu. Saya tidak dapat mengenali warna rambutnya. Dia terlalu silau untuk dilihat dengan teliti. Saya hentikan langkah dan berbalik. Dia wanita. Orang yang menyapa saya adalah perempuan yang saya tidak dapat kenali.

Perjalanan? Ya memang saya sedang berjalan tapi perjalanan apa? Pikiran saya berlomba dengan wujud saya yang makin tipis. Saya sudah seperti kain yang berluubang besar di sana-sini. Jika saya akan mampir ke gedung ini lagi, ke tempat ini lagi, maukah kau jelaskan siapa dirimu? Saya tidak memiliki waktu banyak sampai wujud saya hilang. Saya berharap dia akan menjelaskan. Ternyata tidak.

Maukah kau bicara denganku hari ini? Jika tidak, akankah kau mampir di gedung ini dalam perjalananmu yang lain?

Dia bertanya lagi. Tanpa memperkenalkan diri dia terus bertanya. Mungkin dia tuli sehingga tidak mendengar pertanyaan saya. Ah, tidak mungkin dia tuli. Saya berkata padanya dengan senyuman lemah. Wujud ini tidak akan bertahan lama. Saya harus pergi sekarang. Saya harus kembali.

Lain kali kalau begitu.

Yah, lain kali. Saya harap dia mengerti.

Saya melanjutkan langkah saya untuk kembali dan ketika memasuki jalanan besar dengan hutan di kanan-kirinya wujud ini habis. Tepat ketika titik terakhir dari wujud ini menghilang saya ingat sesuatu.

Itu kau.

Recall

There are those I forgot when starting this blog. The old writings might not contain a lot meaningful stories but there were about me in the past. Sadly, I let them disappear. Anyone cares to remind me, again?

Do not dwell in the past, do not dream of the future, concentrate the mind on the present moment.- Buddha