if only one shot left

If you have one shot left, what kind of bullet will you want to have?

If you have one shot left, what kind of rifle will you want to shoot it with?

If you have one shot left, where will you shoot it from?

If you have one shot left, who will you shoot?

If you have one shot left, which part of body will you take aim at?

Problem is that not everyone has every gun, every bullet, and is expert in taking aim.

That is why choosing your partner is an important thing to do.

Place you go under, person you go with, you can’t be too picky about them. Time you have won’t be last longer than your breath.

When timing must be perfect, your rifle must be steady, your breath must be deep, your aim must be accurate, your calculation must be one hundred percent correct, who will be your partner? What will be your rifle? What will be your bullet?

Advertisements

Is That Really Fine?

People tend to have plans for their own and to pursue them perfectly. For those who can think, they may end up having tough conversation between themselves, their parent, their dearest friends, and sometimes their teachers.

Mankind is about what to do, what really to do, and what not to do. Making them distinguishable sometimes is hurting. Simple example is about choosing your college major. You think engineering is not cool and you prefer medical school to this. Well, since you have only lived for, say, 20 years, what experiences do you have so far? Your parents may agree or disagree, your friends, especially who come from medical school and hate it will be likely to disagree. In the end you will hear bunch of reason should you consider your decision.

You want something really bad, for example matter A. For life you chase this and world itself brings forth any other options like matter B, C, etc.. Your mind at first think that other options are just for being ignored but what if the other person in your life think that they should be considered seriously? You still are chasing the matter A and then you realize that matter A gives you nothing but weariness and unhappiness. On the other side, other matters are slowly showing their good side.

People who want to take, who are currently taking those other options, are then having fun. Their mind is not burdened by some stupid unthinkable and irresolvable reasons yet you are still trying to push your idea forward in time you start to realize that pushing will only make another time goes to wasteland.

Then after all those conversation between you and your dearest, you may coma to this question:

Is that really fine to do?

You start to ask yourself about your plan(s), about your future, about what you really have to do, what you can do later, and what things if you don’t do then it doesn’t matter at all. You start to count the good and the bad of all choices. You start to imagine what you can do, you can achieve if you still are taking your first plan, matter A, and what you will get if you try the other options.

In the end your mind starts to build some sort of pathways.

If this is chosen then what? If this is not chosen then what? What should I do? Where do I go? Why do I prefer this? Why should I consider that? and on and on and on…

These questions imply that you are still sane, still able to think rationally, and willing to count, to prepare, and to not take too much risk if it is not worth it. But one thing for sure you can’t ignore is that time will only pass once and you can’t take back what you have thrown away. You can’t predict everything accurately and count all risks precisely. Will you try to get the other options world offers you or will you stick to your primary plan? Will you take the risk for having your steed on matter A which is not sure about giving you something, really, or will you be ready to step aside from what you have planned for years just to take new -unknown for you yet known for others- plans?

Risks are available not upon your request but they are available upon your choice of their triggers.

What are you willing to do?

Is what you do fine to do?

Either Power, Alliance, or Being Alone

Seeing how those three end, what would you choose for life?

Power may mean knowledge or physical strength, your brain, your muscle, or both.

Alliance can be your very friends or sometimes you end up teaming with your arch-enemy.

Being alone assures you moving fast, keeping your trouble with people minimum, and no extra responsibilities added.

Some say that those with power are proud and respected but sometimes in fear. Alliance makes you weak since you have your allies with you, you can do almost anything. Being alone makes you stronger but you can’t defeat people with alliance except you have yourself very lucky charm.

All those three can’t be maxed out in one turn. Sometimes you have to lower one and increase another. What is your choice? What is your call? What is your motivation? What is …?

Sometimes questions come massively and you don’t have enough time to answer all of them properly and sometimes you ask another person to answer that for you. Next question is whether appointed person can be trusted or not.

Between those three, what is your majority?

Weekly Photo Challenge: Illumination

Thinking about light makes me remember the time when I was doing my morning walking with a friend.

DSC_0018

DSC_0020

These were taken at small forest and I still think that sunlight through the trees is the best as it reminds me how beautiful our world will be if all kind of forest are conserved.

New Post 2013

So, this is my first post in 2013. I wonder what I could have written about my new year’s eve, first doings at January first, and so on. Things people say about new year in my surroundings are the resolution and the plan. However, since tonight I haven’t thought anything about them, perhaps later.

Anyway, they say new year is the new hope and new spirit. I say, good hunting.

Flooded Garden

Not really was flooded but you could see the rain made another ‘pools’ around the garden. More like a little swamp.

DSC_0079

DSC_0078

DSC_0077

The angle I used to take these pictures was a bit wrong, I guess. The pictures were a bit to bright. I hope these are still enjoyable.

Kau

Di sebuah gedung olahraga dekat lapangan bola yang luas. Dikelilingi semak-semak tipis dan padang rumput. Hari yang mendung dengan hujan rintik-rintik. Kalender menunjukkan Januari tahun 2009. Kalender tua yang nyaris hancur karena air hujan. Gedung itu ramai dengan orang-orang yang sedang berbicara mengenai macam-macam hal.

Waktu saya kebetulan sedang mampir ke sana entah karena urusan apa. Seingat saya waktu itu saya memakai celana panjang hitam bukan jeans dengan kemeja putih bergaris vertikal lengan panjang sedikit digulung hingga mendekati siku. Memakai sepatu lama saya yang berwarna hitam dan sabuk lama saya yang telah rusak, St.Dupont dan berjalan dengan tangan di saku karena udara sedikit dingin. Saya sendirian waktu itu, di sekitar gedung dengan udara dingin, dan cuaca mendung.

Saya bertemu dengan beberapa orang kawan saya. Ada yang sedang sibuk membicarakan perguruan tinggi, keluarga, wisata, kuliner, dan macam-macam. Saya berjalan keluar gedung dan duduk di tribun melihat lapangan luas beserta padang rumputnya. Ada kerinduan yang saya lihat di sana, basah dengan embun dengan angin semilir sejuk membelai kepala meniup kemeja saya. Tribun tidak penuh. Hanya beberapa pasang orang atau beberapa orang saja di sana, sekedar duduk melamun atau bercanda dengan temannya.

Aku akan meneruskan ke universitas X setelah ini. Sebenarnya orang tuaku ingin aku ke negeri Y tapi itu terlalu jauh dan mahal menurutku. Aku juga bla…bla…bla…

Tentu institut A dong, itu kan keren dan bergengsi. Gimana sih lo? Masa ga tau soal itu. Pokoknya ntar gue bla…bla..bla…

Jelas sekali, mereka berisik. Tentu saja, saya sudah melewati masa itu dan sekarang sedang menjalani masa-masa kuliah bukan masa memilih. Ada yang sedang berjanji dengan pasangannya seolah akan mati 1-2 menit lagi. Berjanji akan sehidup semati atau kuliah bersama lagi, di kampus dan jurusan yang sama, tak ingin terpisah atau bertengkar dengan kawannya sendiri karena perbedaan pilihan.

Saya berjalan dari tribun menuju pagar pembatas lapangan dengan tribun. Angin lebih nakal di sana. Dinginnya bukan main. Masih ada yang sedang bercanda dan teriakannya terdengar melawan arah angin. Suara deru batang-batang bambu menjadi semakin nyaring. Tidak ada suara kehidupan lain yang terdengar ketika saya melihat langit. Tidak ada matahari di sana. Awan gelap dengan celah-celah sinar bergerak dengan santai. Ponsel saya bergetar.

Ya? Gedung Z. Kenapa? Waktu saya sudah habis? Cepat sekali. Oke, saya akan pulang secepat mungkin.

Saya berjalan untuk kembali menuju tempat asal saya yang sebenarnya tidak saya ketahui pasti. Saya tiba di depan pintu dengan kaca yang besar. Saya sempat bercermin di sana untuk meyadari bahwa saya tidak ada di cermin. Kosong. Saya bisa melihat orang lain lewat kaca itu. Indah sekali. Saya ingat waktu saya sudah habis. Jadi diri saya di kaca itu telah pergi terlebih dahulu? Mungkin saja. Saya tidak jadi melewati pintu tetapi melalui jalan samping gedung yang tertutup rumput basah. Ada beberapa orang di sana. Tidak terlalu ramai.

Saya berjalan dengan santai dengan tangan tetap di saku. Matahari telah mencapai senja. Cahaya kemerahan menyinari saya dari belakang tapi rumput depan saya tetap terang seolah matahari menembus tubuh saya. Hal itu terjadi mudah sekali. Saya teruskan menuju pintu taman samping itu untuk menuju tepi jalan raya. Sepertinya saya akan jalan kaki untuk kembali ke tempat asal saya.

Saya melintasi beberapa orang, tentu saja. Dengan langkai santai dan gontai saya teruskan mendekati pintu pembatas itu. Langkah saya terhenti beberapa detik. Ada orang yang berada di depan saya melihat saya beberapa detik pula kemudian dia pergi. Saya mencoba untuk melihat dia namun mata saya buram dan orang itu pun menjauh hingga tidak terlihat.

Saya bangun dan berjalan lagi dan tiba di pintu taman itu. Angin semakin dingin dan keberadaan saya makin menipis. Seolah larut dibawa angin seperti debu tapi lebih halus dan hangat. Dengan tubuh yang tersisa saya melanjutkan langkah tadi ke arah hutan. Ya, ke arah hutan. Gelap dan dingin. Sore itu lampu mulai menyala sendirinya. Cahayanya kuning seperti lampu di pelabuhan. Burung gagak mulai berisik.

Kau datang juga akhirnya.

Saya tersentak lagi dan melihat ke belakang. Siapa kau? Saya bingung. Apakah kedatangan saya ke gedung itu telah diprediksi? Apakah kedatangan saya di gedung itu telah ditunggu? Orang itu berjalan mendekat. Tubuh saya makin menipis terbawa angin. Dia makin dekat. Berbaju putih dengan lengan panjang. Baju itu bermotif tertentu yang saya kenal tapi tidak ingat dimana saya pernah melihat motif itu sebelumnya. Saya tidak melihat bawahan yang dia kenakan. Tatapannya yang lembut langsung menatap kedua mata saya.

Angin berhembus kencang. Imbasnya tentu tubuh ini akhirnya berlubang di sana-sini. Wujud saya makin kabur. Orang itu berkulit sedikit putih. Indah sekali. Anggun berpadu dengan cahaya kemerahan di celah-celah awan gelap.

Siapa kau? Kau tidak menjawab pertanyaan saya. Saya bertanya lagi dengan harapan dia menjawab. Dia tersenyum dan mengangkat tangan kanannya. Saya kira dia melambaikan tangan untuk ucapan selamat tinggal. Aneh, dia mengenal saya sedangkan saya tidak. Saya berbalik tak peduli dan kembali melangkah menuju hutan yang saya tidak pahami sebabnya saya ke sana. Saya hanya merasa saya harus ke sana untuk pulang, untuk kembali sebelum wujud ini menghilang sepenuhnya.

Kau datang. Akankah kau datang lagi ke sini? Akankah kau rela mampir ke sini dalam perjalananmu yang lain?

Dia tersenyum manis, saya pikir begitu. Saya tidak dapat mengenali warna rambutnya. Dia terlalu silau untuk dilihat dengan teliti. Saya hentikan langkah dan berbalik. Dia wanita. Orang yang menyapa saya adalah perempuan yang saya tidak dapat kenali.

Perjalanan? Ya memang saya sedang berjalan tapi perjalanan apa? Pikiran saya berlomba dengan wujud saya yang makin tipis. Saya sudah seperti kain yang berluubang besar di sana-sini. Jika saya akan mampir ke gedung ini lagi, ke tempat ini lagi, maukah kau jelaskan siapa dirimu? Saya tidak memiliki waktu banyak sampai wujud saya hilang. Saya berharap dia akan menjelaskan. Ternyata tidak.

Maukah kau bicara denganku hari ini? Jika tidak, akankah kau mampir di gedung ini dalam perjalananmu yang lain?

Dia bertanya lagi. Tanpa memperkenalkan diri dia terus bertanya. Mungkin dia tuli sehingga tidak mendengar pertanyaan saya. Ah, tidak mungkin dia tuli. Saya berkata padanya dengan senyuman lemah. Wujud ini tidak akan bertahan lama. Saya harus pergi sekarang. Saya harus kembali.

Lain kali kalau begitu.

Yah, lain kali. Saya harap dia mengerti.

Saya melanjutkan langkah saya untuk kembali dan ketika memasuki jalanan besar dengan hutan di kanan-kirinya wujud ini habis. Tepat ketika titik terakhir dari wujud ini menghilang saya ingat sesuatu.

Itu kau.