dimana kenangan di simpan?

Ada pertanyaan, “Dimana sepatu disimpan?”, “Dimana piring dan gelas disimpan?”,  ”Dimana buku disimpan?”, dan lain-lain. Akan tetapi beberapa waktu lalu saya pernah bertanya, dimana ingatan disimpan? Lalu saya iseng bertanya lagi, dimana jiwa disimpan? Berhubung saya pernah nonton septologi Harry Potter, pikiran saya menuju horcrux yang imajinatif itu.

Ngomong-ngomong tentang ingatan, atau kenangan, beberapa orang merasa, atau berpikir, ingatan mereka pantas untuk disimpan, begitu pula dengan kenangan. Bagi seorang yang berkarir terutama di bidang akademik, buku adalah bank pikiran mereka dan jurnal adalah bundel dari ingatan mereka. Hal ini selalu dicontohkan oleh orang tua saya yang selalu berkata

Tulis. Apa-apa kalau kamu tidak bisa ingat, Tulis. Kertas banyak, pulpen banyak. Nulis saja malas.

Memang benar kata-kata beliau. Memang saya biasanya lupa (mungkinkah “kita” juga berlaku di sini?) dengan apa yang saya catat tetapi jika catatan itu dibaca lagi, biasanya ingatan itu langsung datang dengan sendirinya. Sebagai seorang pelajar menyimpan ingatan dalam tulisan itu wajar. Ada pula orang yang menyimpan ingatan dalam lagu atau musik. Saya sebenarnya sudah melihat hal ini sejak lama tetapi baru terpikir sekarang-sekarang ini. Mungkin beberapa dari Anda ada yang sering mendengar ucapan-ucapan ini.

Inget ga dulu, waktu lagu ini diputar, kita dansa bareng di pentas seni waktu SMA?

Kemudian lawan bicaranya akan merespon, biasanya seperti ini kurang lebihnya.

Iya, iya. Waktu itu kan kamu lagi bla…bla…bla….

Nah, itu yang saya maksud dengan menyimpan ingatan di sebuah lagu. Ingatan atau kenangan? Ingatan yang disimpan di sebuah lagu adalah, biasanya, ingatan yang berkesan, baik itu bersifat romantis, haru, bersemangat, atau menyenangkan. Ingatan-ingatan itu jarang saya temukan bersifat logis. Ingatan-ingatan yang bersifat logis seperti rumus, aturan, hukum-hukum, dan lain-lain yang bersifat ilmiah jarang sekali direkam oleh otak dengan musik. Padahal musik itu lebih mudah masuk otak bagian ingatan jangka panjang loh. Mungkin dapat dicari kata pengganti logis yang lebih tepat. Ini semua pengalaman saya saja, subjektif.

Jadi, apa yang saya tulis? Tempat kenangan (atau ingatan) disimpan itu ada banyak rupanya. Mulai dari secarik kertas sampai musik. Tidak jarang pemusik-pemusik handal yang memiliki ingatan yang baik dan tidak jarang pula para pencatat itu memiliki prestasi yang bagus. Ingat saja bahwa apa yang kita catat suatu hari akan dibaca, entah oleh penulisnya atau orang lain yang sama sekali asing. Jangan lupa untuk mencatat hal-hal yang berguna pada waktu-waktu yang akan datang.

Selamat malam dan sekali lagi, ini semua subjektif.

Leave a Comment

Filed under melodica

hidup cuma sebentar, benar begitu?

Untuk beberapa hal memang hidup cuma sebentar, ambil contoh umur manusia yang cuma sekian tahun. Untuk sampai umur 100 tahun saja sudah langka. Sebetulnya ide saya menulis ini timbul karena sebuah twit dari seorang teman di kampus yang dia ritwit juga dan kira-kira bunyinya begini.

Life is too short to hide your feelings. Don’t be afraid to say what you feel. 

Memang benar juga, kalau kita sembunyi terus, dunia tidak akan mengenal kita seutuhnya. Kembali ke masalah umur yang pendek dan hidup yang pendek. Untuk beberapa hal memang umur manusia pendek tapi hal ini untuk beberapa hal  juga tidak berlaku untuk manusia-manusia cerdas. Cerdas di sini saya maknai bukan sekedar jenius tetapi juga berperilaku baik dan pokoknya yang baik-baik intinya.

Mereka yang cerdas seringkali dicemooh di jamannya. Ambil contoh seorang Beethoven yang meninggal dalam keadaan  miskin atau seorang da Vinci yang meninggal dengan sebotol minuman keras, apakah hidup mereka hanya sebentar? Saya ambil sisi yang sedikit membingungkan juga, mereka itu hidup lebih lama dari orang-orang di jaman mereka sendiri. Kenapa? Pemikiran mereka yang sangat jauh ke depan sehingga hanya orang-orang di masa depan yang mengerti mereka. Ambil contoh lagi seorang penemu pesawat terbang, Wright Bersaudara. Pada masa mereka, masyarakat kurang lebih berkata.

Mustahil benda yang lebih berat dari udara bisa terbang.

Pada akhirnya mereka malah bisa terbang dengan wahana yang jauh lebih berat dari manusia. Kalau ambil analogi anak kecil, jika seseorang berpakaian kuno, berpikiran kuno, berarti mereka berasal dari masa lalu bukan? Ambil contoh kakek nenek kita, karena mereka tidak pandai menggunakan ponsel atau komputer, kita menganggap mereka berasal dari jaman dulu. Mungkin kita juga sering mengganggap orang yang pada masa kini tidak bisa menggunakan komputer adalah orang-orang kuno.

Kalau begitu, orang-orang dengan pemikiran yang inovatif dan berpakaian yang futuristik adalah orang-orang dari masa depan bukan? Simpel saja, tinggal dibalik saja tulisan paragraf sebelumnya. Mereka lahir di jaman yang kuno tetapi mereka dapat dikatakan hidup di masa depan? Buktinya memang mereka hidup di masa depan bukan? Nama mereka disebut di masa kita, masa-masa jauh setelah mereka. Lalu, apa hubungannya dengan don’t be afraid to say what you feel ?

Pemikiran mereka sampai pada kita karena mereka mau bicara, menulis, dan mengajak warga lingkungan mereka untuk berpikir bersama. Mereka menuliskan isi pikiran mereka di buku-buku, membicarakan ide-ide mereka di forum-forum ilmiah, dan bergaul dengan masyarakat dengan sederhana. Hal-hal ini yang sering saya lupakan. Sampaikan dengan sederhana, lugas, dan mudah dipahami. Kalau saya mengutip sabda Rasulullah SAW.

Beri kabar gembiralah dan jangan buat gelisah, serta permudahlah dan jangan dipersulit.

Jika kita menemukan pemikiran inovatif yang memudahkan kehidupan sehingga lebih baik, beri kabar, jangan kita buat orang-orang kebingungan dengan masalah-masalah yang ada. Jika kita ingin menjelaskan sesuatu, gunakan cara yang sederhana, mudah orang pahami, dan jangan kita membuat mereka bingung. Dengan sikap mereka yang demikian mereka bisa hidup lebih lama dari yang seharusnya, dalam arti tertentu, tentu saja.

Umur memang sebentar tetapi isi kepala dan sikap perilaku kita akan menentukan lama atau sebentarnya hidup kita yang sesungguhnya. Ini hanya opini saya saja. Jangan lupa dikoreksi oleh para pembaca semuanya. Semoga ini bukan sekedar racauan saya saja. Bonne Nuit.

Leave a Comment

Filed under lessons

perihal menonton konser, boleh atau tidak?

Berhubung tadi selesai baca beberapa berita di Yahoo, ada berita tentang konser Lady Gaga yang dikecam oleh FPI di sini. Untuk standar saya, orang itu kurang pantas menyebut dirinya lady karena saya tidak bisa melihat dimana letak keanggunannya. Yah, masalah selera penampilan saja.

Nonton konser itu haram kata FPI? Menurut saya nonton konser itu antara mubah dan makruh belum sampai haram. Kenapa? Ini beberapa pendapat saya tentang konser.

  1. Konser orang-orang asing dan kadang lokal juga, seperti yang lain yang saya baca itu non-stop. Karena itu saya jadi berpikir, para penonton di Indonesia kebanyakan beragama Islam kan ya, jadi kapan mereka akan solat?
  2. Kalau memang mereka solat, apa solat mereka akan tenang? Melihat konser itu bisa luar biasa keras suaranya yang sampai buat telinga berdenging.
  3. Penampilan bintang konser juga menjadi sorotan saya. Jika dibandingkan dengan konser para penyanyi pria seperti Linkin Park, konser penyanyi wanita sering dapat batu sandungan. Kenapa? Saya menduga ada masalah dengan cara mereka berpakaian. Silakan lihat penyanyi seperti Katy Perry atau mungkin Beyonce Knowles?
  4. Harga tiket konsernya yang mahal sekali di saat mungkin tetangga kita sedang kerepotan untuk mencari makan atau masjid di sekitar kita sedang butuh dana untuk perbaikan bangunan masjid itu sendiri.
  5. Budaya yang mereka bawa sering tidak cocok dengan budaya kita, seperti minuman keras, pakaian yang kurang pantas, dan budaya seks yang kadang menyimpang.

Saya berpandangan mubah karena itu seperti mendengarkan musik. Mendengarkan musik itu menurut saya tidak haram yang lantas kalau dikerjakan menjadi dosa. Memang musik itu adalah adzan dari setan tapi toh kalau pasar juga masjid dari setan kita juga tetap ke pasar kan? Musik saya anggap sebuah hiburan yang wajar. Yang membuat ia menjadi makruh adalah ia bisa merusak. Merusak dimana? Membuat lupa waktu, menggunakan uang yang berlebihan, dan masalah berikutnya adalah kalau bisa membuat seseorang lupa solat, ini sudah parah.

Saya tidak mempermasalahkan nonton konser atau acara musik apa saja, yang saya anggap penting adalah ketika nonton konser, jangan lupa untuk solat ketika sudah waktunya. Bagi mereka yang beralasan suara adzan tidak terdengar karena suara musik yang keras, saya tidak mau berkomentar lagi. Untuk mereka yang membeli tiket konser dengan harga yang sampai skala jutaan, apakah mereka mau membeli buku kuliah yang fotokopian dengan harga hanya ratusan ribu? Saya temukan mereka malah mengeluh harga buku kuliah terlalu mahal. Untuk mereka para laki-laki yang mengaku selalu solat Jumat di masjid, mereka bisa dan mau datang ke konser berjam-jam sebelum konser itu dimulai, apakah mereka mau datang setengah jam saja sebelum adzan solat Jumat? Saya juga temukan hal ini tidak terjadi.

Pada akhirnya, silakan tentukan pilihan Anda. Menonton konser atau tidak, semua ada untung-ruginya. Anda yang sudah dewasa tentu paham mana yang bagus dan mana yang sebaiknya dihindari. Selamat memilih dan jika ada komentar, silakan disampaikan.

Leave a Comment

Filed under lessons, reality

kata Marzuki Alie tentang pendidikan tinggi

Seorang Marzuki Alie berbicara tentang keteladanan, korupsi yang dilakukan para alumni pendidikan tinggi, dan cara mendidik yang benar. Di satu sisi memang dia berkata yang seharusnya. Pendidikan itu harus memberikan contoh bukan teori saja. Pembuktian harus dilakukan. Toh kita bukan hanya dikasih mentah-mentah F= ma tapi juga cara membuktikan dan menggunakannya.

Yang membuat saya heran, dia itu juga seorang alumni pendidikan tinggi kan ya? Bagaimana pun konyolnya semoga apa yang dia katakan itu bisa menjadi bahan introspeksi untuk dirinya sendiri dengan koleganya yang belum beberapa hari belakangan ini kembali dari kunjungan wisata ke Jerman. Tak banyak yang bisa diulas di sini, semua orang juga sudah jelas tentang figur satu ini.

Eniwei, thanks untuk Humas UI untuk informasi ini.

Leave a Comment

Filed under melodica, reality

musik, antara jangan didengar atau boleh didengar

Musik itu benarkah terlarang untuk didengarkan? Bebeapa orang sayap kanan, tidak selalu, mengatakan musik itu haram. Alasan yang mereka sampaikan itu macam-macam. Mulai dari membuat terlena, lupa solat, lupa mengaji, dan kata mereka musik itu identik dengan orang-orang kafir yang sering dugem di waktu malam sampai pagi. Ada juga yang mengatakan musik itu mempermainkan suasana hati padahal hanya Tuhan yang boleh membuat suasana hati seseorang, kata mereka, dan macam-macam lagi.

Saya punya pendapat berbeda untuk hal semacam ini. Saya berpendapat musik itu bukan sekedar musik yang kita definisikan biasanya. Memang ada semacam riwayat yang mengatakan masjid dari setan adalah pasar, adzan dari setan ada suara terompet. Suara terompet ini mereka artikan sebagai musik yang melenakan. Kalau bicara musik yang membuat orang terlena sebenarnya bukan musiknya karena inti dari musik ada suara.

Ingat shalawat? Adzan, pengajian, dan tahlilan? Itu semua ada musik. Bagi mereka yang mengatakan itu bukan musik, jelas menurut saya aneh karena musik itu ada suara yang berirama. Dengan kata lain suara yang saya dengar sehari-hari darimana pun adalah musik. Argumen mereka berikutnya setelah saya katakan ini adalah musik yang dilarang adalah musik yang membuat orang terlena sampai lupa ibadah. Pada akhirnya mereka malah langsung berargumen yang berbeda dengan sebelumnya. Sebelumnya mereka berkata kurang lebih seperti musik itu haram karena membuat pendengar dan pemainnya lupa waktu dan lupa ibadah.

Padahal ingat saja sehari-harinya kita ini selalu menjadikan musik sebagai acuan ibadah. Contohnya saja adzan. Jika adzan itu disampaikan dengan ucapan biasa, apakah mereka akan tetap berangkat atau malah menutup telinga karena suara adzan itu tidak nyaman di telinga? Musik yang lain lagi adalah pengajian. Membaca kitab suci Al Qur’an itu tidak sembarangan. Ada panjang pendek, dengung jelas, tempat keluar huruf, dan macam-macam. Kalau mau main analogi dengan notasi musik, panjang pendek itu bisa dikatakan dengan ketuk. Misalnya dua harakaat itu adalah dua ketuk atau dengung adalah kalau dalam bermain terompet bisa dikatakan dengan buzzing.

Untuk kaum laki-laki, suara perempuan yang bukan muhrim yang mereka suka adalah musik yang tiada tanding. Buktinya adalah waktu respon seorang laki-laki menjawab pertanyaan perempuan yang mereka suka dibandingkan dengan dari perempuan yang mereka anggap biasa saja. Waktu respon mereka akan lebih lama jika harus menanggapi suara perempuan yang mereka suka. Kenapa? Karena otak laki-laki secara otomatis mengenali suara itu sebagai musik dan itu butuh waktu untuk mencernanya. Bukti lain adalah banyak laki-laki (atau perempuan, sama saja) di waktu kasmaran itu selalu kangen mendengar suara pasangannya bukan? Ini bukti lain kalau suaram manusia itu juga musik yang menurut mereka bisa membuat terlena. Hal yang sama juga bisa berlaku untuk perempuan terhadap laki-laki. Sama saja, menurut saya.

Musik adalah keteraturan suara. Keteraturan berarti memiliki pola. Mengaji memiliki pola bacaan dan bermian alat musik juga punya pola. Keteraturan ini yang membuat manusia menjadi lebih cerdas. Pada akhirnya musik itu haram atau tidak, itu seperti bertanya air bening itu haram atau tidak, menurut saya. Kenapa? Sesuatu yang terlalu banyak itu tidak baik dan minum air bening terlampau banyak juga mematikan. Mengaji terlalu banyak juga tidak baik dan saya pernah mendengar suatu riwayat yang mengatakan selain bulan puasa Ramadhan, khatamkan Al Qur’an itu jangan kurang dari tiga bulan (kalau tidak salah) karena jika ditamatkan salam waktu kurang dari itu dikhawatirkan sang pengaji tidak melakukan apa-apa selain mengaji saja. Saya tidak mengatakan haram tetapi sampai saat ini saya selalu sampai pada kesimpulan your argumen is invalid. Manusia sepertinya tidak akan pernah lepas dari musik ya, selama mereka masih memili indera pendengaran.

Mohon koreksinya dan selamat bermusik ria. Salute.

Leave a Comment

Filed under lessons, melodica, reality

buku TTKI

Karena ada tugas komposisi, akhirnya saya bongkar lagi kardus-kardus berisi buku-buku lama. Sebenarnya tidak begitu lama juga, hanya saja mereka saya simpan di kardus ketika saya pindah kosan. FYI, saya pindah ketika Agustus tahun lalu dan tanpa saya sangka jumlah buku-buku saya melebihi jumlah pakaian saya.

Jadi buku apa yang saya dapatkan kali ini? Buku TTKI a.k.a Tata Tulis Karya Ilmiah yang sudah saya baca dan miliki sejak tahun 2009, khusus masalah baca, terakhir kali saya baca buku itu pada tahun yang sama juga. Ini gambar bukunya.

Lalu saya buka halaman awal dan saya dapati tanda tangan saya yang sejak dulu tidak berubah, masih dengan tanda ‘13’ di sana. Tulisan saya juga masih berupa balok kaku. Lalu, kertasnya belum menguning sama sekali. Ini wajahnya.

Di sana ada kertas buram, bukan kertas buku yang menjadi buram. Kertas buram itu berisi tulisan tangan saya ketika itu. Mencatat materi kuliah pada secarik kertas buram, rasanya sangat nostalgia atau tidak sama sekali. Lalu diikuti dengan catatan-catatan kecil (baca : coretan).

Tahun 2009 itu tahun awal masuk dunia kuliah. Saya sempat merasa menyusut melihat buku itu. Bukan hanya buku itu juga, masih banyak yang lain, yang menjadi saksi kekonyolan saya waktu dulu. Namun demikian, buku itu akhirnya kembali ke permukaan lagi untuk menemani saya membereskan tugas komposisi ini. Harus diakui, itu sempat menarik saya serta akal sehat saya menjauh dari saat ini. Selamat malam.

Leave a Comment

Filed under melodica, reality

properti ya?

Akhir-akhir ini saya sering merasa muak dengan iklan-iklan properti, terutama yang membuka kawasan perumahan baru, di kawasan Jakarta pula. Kenapa muak? Saya menilai alasan saya ini terlalu idealis dan terkesan sok keren tapi tidak apa-apa. Toh cuma tulisan saja kan?

Pertama, Jakarta itu rawan banjir, bukan rawan lagi, ini sudah wajib banjir. Kalau tidak banjir bukan Jakarta namanya. Pemukiman di jakarta itu mirip dengan kota-kota besar lainnya, yaitu tidak kenal aturan. Sungai dibuat dangkal atau ditimbun untuk dibangun rumah. Sungai menjadi sempit dan ketika debit air tinggi, habis rumah-rumah itu. Kemudian mereka menyalahkan Bogor. Cerita salah-menyalahkan nanti saja saya tulis lagi.

Kalau wajib banjir itu apa yang harus dilakukan? Kalau mau cara lama dan sederhana, buat saja resapan air yang banyak. Contoh? Lahan hijau DIPERBANYAK bukan DIHABISKAN untuk perumahan. Memang kawasan di Jakarta itu nilai investasinya tinggi tapi kalau sering banjir siapa yang mau? Tanah utara Ancol itu seingat saya merupakan kawasan rawa-rawa yang ada secara alami untuk air. Sekarang sudah jadi perumahan dengan promosi yang mengatakan gratis masuk kawasan bermain di sana. Belum lagi beberapa waktu lalu terjadi kecelakaan di salah satu wahana. Harus saya akui, di kota saya sekarang juga sudah seperti itu. Mencari trek lari pagi yang teduh dan banyak pepohonan tinggi semakin sulit. Apa di kota-kota besar semuanya seperti itu?

Kedua, kalau mereka menyediakan lahan hijau, lahan itu adalah lapangan golf. Bukannya saya sinis apatis terhadap olahraga ini tetapi lahan sebesar itu hanya dipakai sedikit orang saja. Kenapa tidak lapangan lain? Kalau memang itu perumahan, kenapa tidak membuat lapangan atau taman yang luas sehingga anak-anak bisa bermain dengan tenang? Kenapa harus lapangan golf tempat orang-orang tua bemain? Belum lagi lapangan golf itu pepohonan tingginya sedikit sekali sehingga kesannya dan memang betul di sana panas.

Ketiga, harga yang mereka tawarkan kadang tidak manusiawi. Tentu saja menurut standar saya sebagai golongan tengah yang benar-benar di tengah. Mereka selalu menawarkan produk mereka pada masyarakat kelas atas. Kelas-kelas yang bekerja di atas. Sampai saat ini pengalaman saya memperlihatkan bahwa kalangan atas itu kalau tidak orang Indonesia yang benar-benar kaya berarti mereka adalah orang yang bekerja dengan pihak asing. Kadang sebut orang-orang ini dengan orang asing karena saking asingnya mereka dengan dunia nyata negara ini. Saya sempat bertanya, kenapa mereka tidak tertarik untuk mengembangkan perumahan masyarakat biasa bukan golongan atas? Apa mereka takut tidak ada pembeli?

Terlepas dari itu semua, bisnis tetap bisnis, kata beberapa orang di lingkungan saya. Bisnis itu untuk mencari keuntungan materi bukan moral. Urusan keuntungan moral itu bonus dari materi. Pernah main killzone? Game yang menceritakan ketika seorang industrialis yang memegang penting dalam pembuatan kebijaksaan negara yang pada akhirnya planetnya sendiri hancur karena produknya sendiri? Apa nanti tempat tinggal saya akan demikian?

Salute.

Leave a Comment

Filed under reality